Membentuk generasi muslim yang cerdas, berprestasi bertaqwa berahlak mulia dan berdaya guna bagi agama, bangsa dan negara.

Peran Pemuda dalam Menghadapi Wabah Covid 19

Hari ini matahari bersinar penuh semangat. Pak Darmawan terus mengayuh sepedanya menjajahkan cireng dagangannya. Wajahnya mulai terlihat basah oleh keringat yang sedari tadi menyapu keriput kulit tuanya. Sesekali ia berhenti dibawah pepohonan yang rimbun teduh. Ketika ia mengecek panci dagangannya yang masih penuh dan belum satupun laku terjual, ketika itu pula ia melihat wajah istri dan anaknya. Ia menyeka keringat dengan handuk yang ia gantungkan di lehernya lalu kembali mengayuh sepedanya. Desa demi desa ia singgahi. Setiap desa terlihat sama, karena berdiri posko-posko covid-19 di setiap perbatasannya.

Mengingat memang sedang marak dan merebaknya virus yang berhasil mengguncang dunia akhir-akhir ini.Pada setiap pintu masuk desa, orang yang baru diwajibkan melapor dan bahkan bisa berujung larangan masuk. Hal ini mengherankan karena setiap warga desanya yang merantau di kota-kota besar justru diperbolehkan masuk meskipun mendapat gelar dadakan sebagai ODP (Orang Dalam Pengawasan).

Lantas kenapa orang-orang yang jelas memiliki riwayat berpergian jauh seperti rantauan tersebut justru boleh-boleh saja masuk sementara para pedagang keliling yang mungkin berasal dari desa tetangga justru banyak yang mendapat penolakan atau kesulitan untuk masuk karena jalannya dipagari rentetan bambu sedang atau besar yang memblokade jalan.Rasa lelahnya tidak boleh sia-sia. Ia harus pulang dengan membawa rupiah. Hanya itu yang ada dalam benak Pak Darmawan Tapi sayang, raganya yang sudah renta justru tak selaras dengan keinginannya. Kakinya mulai lelah mengayuh dan ia pun berhenti di sebuah warung kopi kecil pinggir jalan.

Pak Darmawan berkata “Punten bu ngiring calik.” “Mangga pak.” Sahut ibu warung. Perutnya yang belum terisi sedari pagi sedikit  melakukanprotes pada dirinya. Ia bingung, mengingat belum sepeserpun uang yang ia dapat.Mata sayunya sesekali melirik hamparan singkong goreng dan aneka gorengan lainnya tapi apa daya ia harus mengubur dalam rasa inginnya. Melihat gelagat Pak Darmawan seperti itu, ibu pemilik warung tersebut mengerti dan merasa ”Pak silahkan ambil saja pak.” Tawar ibu warung untuk Pak Darmawan. “Ah terimaksih bu, saya hanya numpang duduk saja.” Jawab Pak Darmawan karena merasa malu, tak berapa lama Pak Darmawanpamit ”Ibu terimaksih.” “Tunggu dulu pak! ini saya bungkuskan beberapa gorengan untuk bapak.” Sambil memberikan bungkusan gorengan kepada Pak Darmawan. ”Tapi bu, saya tidak punya uang, dagangan saya belum laku sama sekali.” Tolak Pak Darmawan. “Tidak usah pak, saya ikhlas, ini buat bapak di jalan. Saya tahu bapak lapar dari tadi saya tidak sengaja mendengar suara perut bapak” kata ibu warung. “terimaksih bu terimakasih… “ jawab Pak Darmawan “Sama-sama pak.” “Kalau begitu saya pamit bu.”

Wajah pak Darmawan sedikit sumringah melihat beberapa gorengan yang dibungkus koran tersebut. Sebenarnya bisa saja ia memakan dagangannya sendiri untuk sekadar memuaskan rasa laparnya. Tapi ia berpikir bahwa jika cirengnya itu berhasil ditukar dengan uang, maka ia bisa merasakan rasa kenyang dan rasa bahagia itu bersama anak dan istrinya juga.Tak jauh kemudian ia berhenti untuk menyantap gorengan pemberian tadi. Ternyata di dunia ini masih ada orang-orang yang baik pikirnya. Ia kembali menyetandarkan sepedanya, lalu duduk di batu pinggir jalan.Ia membuka bungkusan itu, terlihat ada 5 buah gorengan yang sudah dingin. Ia melahap satu buah gorengan ubi sambil membaca tulisan yang ada dalam koran pembungkus tersebut. Ia menjumpai sebuah puisi yang berbunyi

Tuhan Mengajarkan Melalui Corona.

Vatikan sepi.

Yerusalem sunyi, tembok ratapan dipagari

Paskah tak pasti

Ka’bah tutup.

Shalat jumat dirumahkan

Umroh dan haji batal

Shalat tarawih jelas berkurang jumlahnya

Ketika corona datang

Engkau dipaksa mencari tuhan

Bukan di Basilika Santo Petrus

Bukan di Ka’bah

Bukan di dalam Gereja

Bukan di Masjid

Bukan di Mimbar Khotbah

Bukan di Majelis Taklim

Bukan dalam misa Minggu

Bukan dalam sholat jumat

Melainkan,

Pada kesendirianmu

Pada mulutmu yang terkunci

Pada hakikat yang senyap

Pada keheningan yang bermakna.

Corona mengajarimu

Tuhan itu bukan (melulu) pada keramaian

Tuhan itu bukan (melulu) pada ritual

Tuhan itu ada pada jelan keputusasaanmu dengan dunia yang berpenyakit.

Corona memurnikan agama

Bahwa tidak ada yang boleh tersisa.

Kecuali Tuhan itu sendiri!

Tidak ada lagi sorak sorai memperdagangkan nama Tuhan.

Datangi, temui dan kenali DIA di dalam relung jiwa dan hati nuranimu sendiri

Temukan DIA di saat yang teduh di mana engkau hanya sendiri bersamaNya.

Sesungguhnya kerajaan Tuhan ada dalam dirimu

Qolbun mukmin baitullah.

Hati orang yang beriman adalah rumah tuhan.

Biarlah hanya Tuhan yang ada.

Biarlah hanya nuranimu yang bicara.

Biarlah para pedagang, makelar, politikus dan para penjual agama disadarkan oleh Tuhan melalui

kejadian ini.

Semoga kita bisa belajar dan mengambil hikmah dari kejadian ini.

Beberapa waktu lalu tersiar kabar ada jenazah yang tidak diterima di desanya, jenazah dan beberapa petugas dilempari dengan batu atau apapun itu. Miris memang, disaat seperti ini kemanusiaan seharusnya menjadi tangan tuhan bukan hakim kemanusiaan.

Pak Darmawan sampai-sampai tak sadar satu buah gorengan ubi sudah habis dilahapnya. Ia hendak mengambil lagi gorengannya, tapi, ia teringat anak istrinya yang di rumah.Ia kembali merapihkan gorengan tersebut agar ia bawa pulang untuk anak istrinya. Lalu ia bergegas kembali mengayuh sepedanya mengingat hari sudah menjelang sore.Kayuhan sepedanya mengantarkan pada desa berikutnya.

Di posko covid-19 perbatasan suatu desa.”tetot tetot!” ciri khas berdagang Pak Darmawan “Kesini dulu pak!. Bapak orang desa sini?” Tanya seorang pemuda. ”Oh bukan a, saya hanya ingin menjajahkan cireng ke desa ini.”sahut Pak Darmawan. “Oh..kalau begitu ya maap maap lah pak, sekarang kan lagi darurat virus corona, jadi sebagai antisipasi setiap orang yang bukan warga sini harus diperiksa atau bahkan dilarang masuk.” Larang si pemuda. “Iya a saya paham betul situasi saat ini, tapi saya cuma mau jualan. Ya maklum lah  saya orang kecil yang makan atau tidaknya itu ditentukan dari seberapa keras saya berjualan.Hari ini saya sudah keliling beberapa desa dan sama sekali tidak ada yang beli, karena semua juga menutup pintu masuk desa terutama untuk orang yang bukan bermukim di desa tersebut.Jadi barangkali saya bisa menjemput rizki allah di desa ini.” Sambil tersenyum lelah Pak Darmawan menjawabnya. ”Iya… iya ana faham om, tapi ini bentuk pencegahan penularan penyakit agar warga desa kami nyaman, aman, kokoh, dan terpercaya.” Sahut seorang hansip yang tiba-tiba ikut menimbrung.

“Yasudah begini saja pak, bapak saya periksa dulu sebagai bentuk laporan orang yang masuk desa. Mangga, silahkan duduk!” pemuda tesebut mempersilahkan Pak Darmawan. ”Oh iya a. Uhukuh!!” Pak Darmawan terbatuk. “Stop pak! Menurut buku yang saya baca, salah satu gejalanya penyakit ini adalah batuk. Jadi sudah cukup. Bapak tidak perlu melapor. Sebaiknya bapak jualan di desa lain saja. Maaf pak! Kami tidak mau ambil risiko.” Pangkas pemuda tersebut setelah mendengar Pak Darmawan yang terbatuk. “Tapi saya sehat sehat saja a.” “Iya, tapi kan ada beberapa orang positif corona tanpa gejala juga. Sudahlah pak, tolong hargai kami. Kami tidak mau kecolongan. Kan kita tidak tahu bapak membawa virus itu atau tidak? Nah kalau ada yang sampai meninggal gara-gara kecerobohan kami, desa ini juga yang repot.”balas pemuda kepada Pak Darmawan. ”Waduh a, mang, kalau begini caranya, pedagang kaya saya tidak bisa makan setiap hari. Di rumah, anak dan istri saya menunggu saya pulang membawa beberapa rupiah untuk bertahan hidup. ”Haha bapak ini ngomong apa sih? Kaya yang tidak percaya allah saja. Nih pak, saya beritahu, yang namanya orang hidup itu pasti diberi rizki sama yang maha kuasa. Jadi bapak tidak usah khawatir.” Kata si pemuda “Iya a, saya tahu itu. (Tersenyum) kalau begitu, berarti aa juga tidak percaya allah ya? ”Loh kok begitu? “Iya. Bukankah hidup dan mati seseorang sudah ditentukan oleh allah semenjak ruh ditiupkan di alam rahim? Dan itu pasti. Tidak bisa diundur atau dimajukan. Tidak bisa dihindari atau dinegosiasi. Betul?” debat Pak Darmawan ”Iya betul, tapi kan kita harus ikhtiar. Dan ini salah satu bentuk ikhtiar kami pak.” Kata hansip menanggapinya. “Kalau begitu, berjualan di sini juga salah satu bentuk ikhtiar saya untuk menjemput rizki allah pak, Permisi.” Sambil tersenyum menjawabnya.

Gelap mulai merambah menutupi hari ini namun Pak Darmawan hanya mampu membawa Rp. 15.000 saja. Sesampainya dirumah Pak Darmawan disambut hangat senyum dari istrinya yang sambil menanyakan pendapatannya hari ini. Baru saja Pak Darmawan duduk di tikar lusuhnnya, anaknya datang dan mengadu “Pak, Bu. Kuota irpan habis, irpan mau ngerjain tugas pak. Sekarang serba online.” Si Istri menatap uangnya. Tapi ia tahu betul, ada yang lebih berharga dari uang tersebut, yaitu kebaikan untuk anaknya, termasuk pendidikannya. “Yasudah, ini, beli kuotanya sana. Tapi hanya segini uangnya nak.” Sambil menatap wajah Pak Darmawan. “Iya bu. Ini cukup” anaknya pun pergi. “Tidak apa apa pak. Besok biar irpan saja yang makan.insya allah, ada rizki untuk besok.” Sambil memeluk Pak Darmawan yang menunduk sedih.

Penulis:

Asadun Zufar Najib, Kelas: 8B

Post a Comment