Membentuk generasi muslim yang cerdas, berprestasi bertaqwa berahlak mulia dan berdaya guna bagi agama, bangsa dan negara.

Kisah Teladan Nabi Muhammad SAW: oleh SMPIT AR RUDHO

Kisah Teladan Nabi Muhammad SAW

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Tidaklah Kami mengutusmu, melainkan menjadi rahmat bagi seluruh alam (QS. Al-Anbiyâ : 107)

Syeikh Nawawi Al-Bantani dalam tafsir Marah Labid menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan utusan adalah Nabi Muhammad SAW, makhluk yang paling mulia dengan membawa syariat (bisyaroi’) sebagai rahmat bagi seluruh alam, baik dalam urusan agama maupun dunia, karena pada dasarnya manusia dalam kesesatan dan kebingungan”. 

Rabiul Awal, bulan ketiga dalam kalender Hijriyah adalah bulan yang dimuliakan umat Islam. Sebab, di bulan ini Nabi Muhammad SAW lahir ke dunia sebagai manusia yang diutus oleh Allah SWT untuk menyampaikan ajaran-Nya. Jauh sebelum kelahiran Rasulullah, Allah sudah mengabarkan akan kehadiran Nabi akhir zaman. Kedatangan Rasulullah telah disebut-sebut dalam kitab sebelum Alquran, yakni dalam kitab Taurat dan Injil. Sehingga, para rabi Yahudi dan pendeta Nasrani telah mengenal Rasulullah dari gambaran tentang sifat-sifatnya.

Dari segi nasab Nabi Muhammad SAW lahir dari pasangan Abdullah dan Aminah yang keduanya berasal dari keluarga terpandang. Abdullah adalah putra dari Abdul Mutholib pemimpin suku Quraisy. Sementara Aminah merupakan putra dari Wahab pemimpin Bani Zuhrah. Kebiasaan warga Makkah ketika itu adalah berdagang ke Syam, begitupun Abdullah pergi bersama rombongan pedagang Makkah. Mereka tak hanya ke Syam, tapi juga singgah di beberapa kota lain sehingga perjalanan memakan waktu yang lama.

Dalam kitab Al-Barzanji yang ditulis oleh Syeikh Ja`far saat hendak pulang ke Makkah Abdullah jatuh sakit, ia singgah di tempat paman-pamanya dari Bani `Adiy kelompok Najjar di Kota Madinah Munawwaroh. Setelah menetap selama satu bulan karena sakit parah kemudian Abdullah wafat. Nabi Muhammad menjadi yatim saat genap umurnya 2 bulan dalam kandungan Sayyidah Aminah. Adapun mengenai waktu kelahiran nabi terdapat perbedaan pendapat namun yang paling masyhur Nabi Muhammad dilahirkan pada hari Senin 12 Rabiul Awal 571 M di Kota Makkah. 

Sesuai dengan kebiasaan bangsa Arab saat itu setiap bayi yang lahir maka disusukan kepada perempuan lain, termasuk juga Nabi Muhammad disusui oleh Halimah dari Bani Sa`ad. Semenjak menyusui Nabi Muhammad banyak berkah dan keajaiban yang dialami, Halimah mengeluarkan air susu yang sangat banyak padahal sebelumnya kesulitan mengeluarkan susu sehingga bayi kandungnya selalu menangis kelaparan. Selain itu keledai yang dinaiki Halimah dan Nabi Muhammad berjalan sangat cepat padahal sebelumnya sangat pelan dan terlihat lemah dan yang tak kalah menakjubkan saat Halimah hidup bersama Nabi Muhammad tanah yang awalnya kering/tandus tumbuh rumput rumput yang sangat subur sehingga kambing-kambing Halimah gemuk-gemuk dan mengeluarkan air susu yang melimpah. Halimah dan Harits suaminya merasa bersyukur karena membawa Nabi Muhammad untuk disusui padahal ibu-ibu yang lain tidak mau menyusui Nabi Muhammad karena ia yatim.

Pada tahun keenam dari umur Nabi ibunya membawanya ke Madinah untuk menemui paman-pamannya dan berziarah ke makam ayahnya. Namun saat perjalanan pulang baru sampai di Desa Abwa Ibunya sakit dan meninggal dunia. Nabi meneteskan air mata menangis, bersedih ditinggalkan ibunda tercinta saat usia Nabi masih belia. Nabi Muhammad menjadi yatim piatu dan diasuh oleh kakeknya Abdul Muthallib di kota Mekkah selama dua tahun. Setelah Abdul Muthallib wafat asuhan dilanjutkan oleh pamanya Abu Tholib yang bukan tergolong orang kaya dan memiliki banyak anak yang menjadi tanggungannya. Ia bekerja keras, berdagang  menjual barang-barang dagangan ke negeri Syam (Syiria) dan daerah-daerah sekitarnya.

Saat berusia 12 tahun Nabi mulai ikut berdagang bersama pamannya. Dalam berdagang Nabi dikenal dengan setinggi-tingginya nilai amanah, nilai kejujuran, dan sikap menjaga kehormatan diri. Inilah karakternya di segenap sisi kehidupannya, hingga diberi gelar al-Amin (dapat dipercaya). Di usia 17 tahun, Nabi Muhammad telah memimpin sebuah perdagangan ke luar negeri. Kesuksesan bisnis Rasulullah pun makin cemerlang ketika Ia bertemu Khadijah yang kemudian menjadi istri Nabi Muhammad SAW saat usianya 25 tahun dan Khodijah 40 tahun.

Khadijah binti Khuwailid merupakan istri yang setia menemani Rasulullah semasa hidupnya. Ia juga orang yang pertama kali masuk Islam dan orang yang pertama kali mempercayai kenabian Rasulullah saw sehingga diberi julukan Ummul Mukminin. Saat di gua Hira datang Malaikat Jibril menyampaikan wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW  tubuhnya bergetar hebat dan mengalami demam dengan langkah tertatih dan sisa tenaga yang seakan terkuras habis, Nabi Muhammad berjalan menuju ke rumahnya di antara kegelapan fajar. Sesampainya di rumah ia memanggil Khadijah dalam keadaan menggigil seraya berkata, “Selimutilah aku, selimutilah aku”. Melihat keadaan Rasul yang sangat mengkhawatirkan, Khadijah mendekap Rasulullah dengan lembut dan berusaha menenangkan hati suami yang ditaatinya.

Perjuangan Rasulullah dalam menyampaikan Islam adalah perjuangan yang berat dan luar biasa. Pada waktu itu Rasulullah dihadapkan banyak tekanan ketika menyampaikan Risalah dari Allah. Ancaman kaum kafir Quraisy pun bukan ancaman main-main, sudah berapa kali kaum kafir ingin membunuh Rasulullah. Manusia berhati nan mulia itu tetap berpegang teguh pada agama-Nya hingga ajal menjemput.

Dikisahkan saat menjelang wafatnya Nabi, Allah mewahyukan kepada Malaikat maut untuk menemui dan mencabut nyawa Rasulullah SAW dengan lemah lembut. Malaikat Maut kemudian menunaikan perintah Allah SWT sambil mengucapkan: “ Assalamualaika ya Rasulullah .” Rasulullah SAW pun menjawab: “Waalaikassalam ya Malaikat Maut. Engkau datang untuk berziarah atau untuk mencabut nyawaku?” Malaikat Maut menjawab: “Saya datang untuk ziarah sekaligus mencabut nyawamu ya Rasulullah. Jika engkau izinkan akan aku lakukan. Tapi jika tidak, aku akan pulang.” Rasulullah bertanya: “Wahai Malaikat Maut, di mana engkau tinggalkan Jibril?” Jawab Malaikat Maut: “Saya tinggalkan dia di langit dunia.” Baru saja Malaikat Maut selesai bicara, tiba-tiba Jibril datang lalu duduk di samping Rasulullah . Maka bersabdalah Rasulullah: “Wahai Jibril, tidakkah engkau mengetahui bahwa ajalku telah dekat?” Jibril menjawab: “Ya, wahai kekasih Allah.”

Kemudian Rasulullah bersabda: “Beritahu kepadaku wahai Jibril, apakah yang telah disediakan Allah untukku?” Jibril pun menjawab: “Bahawasanya pintu-pintu langit dan pintu-pintu Surga telah dibuka, sedangkan malaikat-malaikat telah berbaris untuk menyambut rohmu ya Rasulullah. Rasulullah bertanya kembali. Apakah yang akan diperoleh oleh orang-orang yang membaca Alquran, berpuasa dan  berziarah ke Baitul Haram sesudahku?”

Jibril menjawab: “Saya membawa kabar gembira untuk Rasulullah. Sesungguhnya Allah telah berfirman: Aku telah mengharamkan surga bagi semua Nabi dan umat, sampai engkau dan umatmu memasukinya terlebih dahulu.”

Maka bersabda Rasulullah: “Sekarang, tenanglah hati dan perasaanku. Wahai Malaikat Maut dekatlah kepadaku.” Lalu Malaikat Maut pun mendekati Rasulullah. Kemudian Malaikat Maut pun mulai mencabut nyawa Rasulullah. Ketika roh Rasulullah sampai di pusat perut, Rasulullah berkata: “Wahai Jibril, alangkah pedihnya maut.” Mendengar ucapan Rasulullah itu, Jibril memalingkan wajahnya. Lalu Rasulullah bertanya: “Wahai Jibril, apakah engkau tidak suka memandang wajahku?” Jibril menjawab: “Wahai kekasih Allah, siapakah yang sanggup melihat muka Rasulullah yang sedang merasakan sakitnya syakarotul maut?” Akhirnya roh yang mulia itu meninggalkan jasad Rasulullah. Maka wafatlah manusia mulia itu pada usia 63 tahun.

Begitulah mulianya Rasulullah saat menjelang wafatnya yang dipikirkan adalah umatnya, ia tidak rela jika umatnya tidak masuk syurga bersamanya kelak. Maka sebagai umat Nabi teruslah kita perbanyak membaca sholawat kepada Nabi Muhammad SAW.


مَنْ صَلَّى عَلَىَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا

“Barangsiapa bersholawat kepadaku satu kali, niscaya Allah bersholawat kepadanya sepuluh kali” (HR. Muslim).

Semoga kita semua terus istiqomah meneladani Rasullah SAW sehingga kita kelak mendapatkan syafaatnya di akherat kelak. Allahumma amin.

Oleh: Fathullah, S.S.I

(Pengajar di SMP Islam Terpadu Ar-Rudho Jakarta)

Post a Comment