Membentuk generasi muslim yang cerdas, berprestasi bertaqwa berahlak mulia dan berdaya guna bagi agama, bangsa dan negara.

Kembali ke Titik Nol (Renungan Jelita di Masa Pandemi)

Allah SWT menciptakan manusia sesuai dengan kodratnya yaitu sebagai khalifah dimuka bumi. Hal ini terdapat dalam Al-Quran (Albaqarah: 30) yang memberi kandungan makna diantaranya bahwa Allah mengabarkan kepada Malaikat tentang rencana-Nya menciptakan makhluk yang dinamakan  manusia menjadi khalifah dibumi. Makna khalifah dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Online, khalifah artinya pemimpin pengganti Nabi Muhammad SAW setelah ia wafat. Arti lainnya adalah kepala agama dan raja dinegara Islam. Artinya tidak bisa dipungkiri, bahwa kita sebagai manusia diciptakan dan digariskan mempunyai peranan yang sangat penting.

Peranan tersebut berfungsi setelah manusia sudah memasuki usia akil baligh, artinya ketika masa sudah diberikan kemampuan berpikir yang bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah, serta mana hak dan mana yang batil. Kemampuan tersebut adalah kelebihan kemampuan yang diberikan Yang Kuasa kepada yang namanya makhluk yang paling sempurna yaitu manusis dibanding makhluk lain yang diciptakan-Nya.

Penciptaan kemampuan atau kelebihan yang akan menunjang kekhalifaan yang diamanahkan kepada manusia terkadang tidak dimanfaatkan sesempurna mungkin. Kenikmatan Yang diciptakan Yang Kuasa disalahgunakan. Manusia terkadang sombong dan mengangap bahwa hidup akan selamanya dimuka bumi ini. Kenikmatan kehidupan yang diberikan Yang Kuasa dari mulai dihembuskan napas ketika kita lahir yang dinamakan bayi, setelah itu masa kanak-kanak, akhirnya menjadi remaja. Remaja menjadi dewasa dan sampai tua.

Pertambahan usia dari masa kanak-kanak, remaja hingga usia 20 tahun. Akhirnya usia 30 tahun, pada saat ini timbul idealisme pertama setiap berpikir dan bertindak. Saat usia seperti ini merupakan impian yang sedang membumbung tinggi. Kekuatan fisik, juga dalam kondisi puncak. Gabungan kekuatan yang dahsyat, yang mesti dimiliki oleh setiap orang. Setelah itu menapaki umur 30-45 tahun, saat ini adalah masa implementasi. Setelah cita-cita yang terangkum dalam impian, dan didorong oleh energi kekuatan fisik, inilah saatnya untuk memanfaatkan dua kekuatan itu dalam kehidupan. Ada yang terpeleset, terjatuh dan terperosok.

Terperosok ataupun terjatuh terjadi karena kita lupa akan Sang Khalik. Merasa usia tersebut adalah masa yang harus dinikmati dan rugi jika tidak dinikmati. Terkadang kita tidak sadar apa yang dilakukan adalah menjauh dari Sang Pencipta. Disaat Sang Khalik menyentil kita dengan ujian kecil pun kita tidak sadar, contoh ujian dengan mulai timbulnya sakit-sakit yang ringan, misalnya badan mudah capek, kalesterol, asam urat, dan lain-lain.

Penyakit-penyakit tersebut kelihatannya sepele, tapi padahal Allah SWT mulai memberi peringatan kepada kita untuk berhati-hati dengan pola makan kita dan dari mana berasal uang untuk membeli makanan tersebut. Kita merasa semua bisa didapat pada usia tersebut, kita bisa beli dari hasil keringat kita sendiri. Berbagai dosa kita lakukan tanpa sengaja, bisa jadi dosa kecil sampai menengah. Sibuk dengan duniawi, mengejar karir dan sebagainya. Seringkali tanpa disadari sudah ternoda, Seharusnya bukan hanya menjalankan ibadah wajib semata tapi seharusnya menjalankan ibadah-ibadah yang sifatnya sunah. Hidup hanya diisi duniawi yang mencintai kemewahan dan kesombongan dan bahkan kehidupan dipenuhi dengan kemunafikan.

Kemunafikan sebagai hamba disini dikhususkan kepada yang berjenis kelamin wanita. Di mana wanita lebih memungkinkan tingkat kemunafikannya lebih tinggi dibanding dengan berjenis kelamin laki-laki. Tak bisa dipungkiri bahwa nantinya dineraka akan banyak wanita dibandingkan laki-laki. Sebagai wanita terkadang kita menganggap remeh dan tidak merasa sesuatu akan menjerumuskan ke neraka. Wanita yang notabene makhluk ciptaan Yang Kuasa yang suka akan kemewahan dan kegelamoran. Suka akan pujian dari makhluk lawan jenisnya. Bahkan sampai gemar tabarruj (bersolek atau dandan ketika diluar rumah) dan sombong.

Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


“خير نسائكم الودود الولود المواتية المواسية إذا اتقين الله وشر نسائكم المنتبرجات المتخيلات وهن المنافقات لا يدخل الجنة منهن إلا مثل الغراب الأعصم”


“Sebaik-baik wanita di antara kalian adalah yang sangat cinta (kepada suami); subur (banyak anak); suka mengalah dan suka membantu, jika mereka bertakwa kepada Allah Ta’ala. Sejelek-jelek wanita di antara kalian adalah yang suka bersolek (berdandan) dan sombong. Merekalah wanita-wanita munafik. Tidaklah masuk surga di antara mereka kecuali seperti al-ghurab al-a’sham (yaitu, sejenis burung gagak yang memiliki paruh dan kaki berwarna merah dan sangat langka, pen.).” (HR. Al-Baihaqi dalam As-Sunan no. 13478. Dinilai shahih oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 1849).

Betapa hadits tersebut menyatakan bahwa wanita yang suka bersolek/ berdandan bukan untuk suaminya adalah termasuk orang munafik. Berat memanggul kata tersebut, tetapi harus dihadapi dan diterima karena sudah ditakdirkan wanita adalah terbuat dari tulang rusuk laki-laki. Tetapi sebaliknya, sangat mudah bagi wanita untuk masuk surga jika menghindari hal yang digariskan dalam hadist tersebut. Akan tetapi godaan di luar sana lebih menjanjikan daripada harus mengukir pahala sedikit demi sedikit. Ibadah yang konsentrasi susah diciptakan. Bayangan hanya di duniawi. Dosa-dosa yang sering diabaikan jika terus dilakukan secara konsisten lama-lama akan menjadi dosa yang bertumpuk dan menggunung. Banyak dosa-dosa sering diabaikan oleh kita.

Dosa tersebut bisa berupa riya’ dalam ibadah, tidak thumakninah dalam salat, banyak melakukan gerakan yang sia-sia dalam salat, mendengarkan dan menikmati musik secara berlebihan, dan lain-lain. Jika dilihat perilaku ini sepertinya sepele, tapi jika usia kita sekarang menjelang 50 tahun, kita hitung betapa menggunungnya tumpukan dosa tersebut. Berpuluh-puluh tahun kita melukis dosa. Dari kita baligh rerata usia 12 tahun dimulainya akil baligh tersebut sampai jelita (jelang lima puluh tahun). Walaupun orang berpendapat menjelang usia 50 tahun merupakan umur menapak keemasan. Ilmu manajemen bilang puncak karir. Dalam berbagai bidang kehidupan. Tapi apakah sadar di usia seperti inilah ini ajal mulai mendekat?

Jelang lima puluh tahun ini, mari kita renungkan sudah dimanfaatkan untuk apa saja waktu-waktu tersebut? Mana janji kita sebagai khalifah di muka bumi? Saat ini tepat sekali untuk merenung, karena di saat pandemi covid 19 kita banyak berdiam diri tidak melakukan interaksi yang banyak dibanding sebelum pandemi. Kesempatan ini juga kita pergunakan interaksi yang intens terhadap anggota keluarga kita, kita dapat bersenda gurau di rumah, serta beribadah secara konsentrasi. Allah Yang Kuasa memberikan peringatan dengan pandemi ini tentu ada hikmahnya. Kesempatan ini dapat kita gunakan untuk merenung dan merefleksikan diri agar menjadi baik. Punya kesempatan mendekatkan diri untuk persiapan menuju akhirat.

Untuk menuju akhirat butuh konsentrasi dan kesehatan yang maksimal untuk melakukan ibadah-ibadah menghadap Sang Khalik. Sayangnya, banyak orang belum tahu cara menikmati hidup berusia 50 tahun. Temukan indahnya kehidupan berusia 50 tahun dengan melakukan aktivitas menyenangkan dan menjaga kesehatan. Menuju indahnya kehidupan usia 50 tahun bisa kita pelajari dari seorang dr. Zaidul Akbar, dalam siaran YouTube dr. Zaidul Akbar Official, menjabarkan cara hidup sehat Nabi Muhammad SAW di usia 50 tahunan. Dikatakan bahwa Rasulullah adalah sosok yang sehat hingga akhir hayatnya. Bahkan di akhir hidupnya, ia pergi dalam keadaan baik, hingga tidak ada keluar kotoran dari jenazahnya.

“Ali bin Abi Tholib saat memandikan jasad perginya Nabi Muhammad SAW tidak mengeluarkan kotoran sedikitpun, yang saat itu Ali berkata saat hidup pun kau dalam keadaan baik dan bahkan meninggal pun dalam keadaan baik,” ujar dr. Zaidul. Zaidul Akbar juga menjelaskan cara tidur Nabi Muhammad. Lelaki yang dikenal sebagai dokter Sunnah Rasul itu mengatakan cara hidup sehat ala rasul bisa dimulai dengan cara tidur, di mana beliau jarang begadang, dan diusahakan tidur selepas salat Isya.

“Waktu tidur itu adalah waktu yang paling efektif tubuh kita untuk meremajakan dirinya, dan waktu tidur Nabi Muhammad SAW adalah beliau umumnya tidur setelah Isya. Nanti tengah malam sekitar jam 1 atau jam 2 bangun untuk salat malam,” ujar dr. Zaidul.”

Di saat inilah kita tepat bermunajat dan memohon kepada Yang Kuasa. Di keheninngan malam, di saat orang lain di peraduan, kita segerakan wudhu untuk menghadap-Nya. Tidak terasa butiran air menggenang di pipi. Menangisi yang sudah terjadi dan tidak akan bisa seperti semula. Namun yakin Sang Penguasa akan memberikan ampuanan kepada hamba-Nya. Hamba yang penuh hina dan dosa. Ibarat kita kembali ke titik nol, berharap meniti kehidupan yang lebih baik. Bukan perilaku yang kita lakukan selama ini. Tertatih-tatih memang yang terjadi, kadang masih ada rayuan dan godaan untuk gagal fokus menghadap Sang Khalik. Lawan godaan dan rayuan setan yang tak henti-hentinya menggoda kita sebagai manusia.

Kembali ke titik nol mengandung makna melakukan pertaubatan. Di mana fungsinya mengembalikan diri ke jalan yang benar setelah melakukan penyimpangan dari jalan Allah, atau mengembalikan diri ke jalan yang diridhai Allah, setelah melakukan hal-hal yang bertentangan dengan tuntunan Allah Swt. Perbuatan taubat, pada umumnya selalu dikaitkan dengan dosa yang dilakukan sebelumnya.

Banyak sekali faedah yang didapat jika kita bertaubat: terhapusnya dosa, kejelekan diganti dengan kebaikan, membawa keberuntungan pembersihan hati, dan jalan menuju surga. Allah berfirman, yangartinya, “Kecuali orang yang bertaubat, beriman, dan beramal saleh, maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikitpun” (QS. Maryam: 60).

Betapa indahnya jika kita berkumpul dengan orang-orang yang saleh di surga-Nya Allah. Semua manusia yang beriman pasti menginginkan tempay yang diidam-idamkan. Merugilaj jika seseorang tidak tergerak hatinya untuk kembali ke titik nol atau mencapai pintu pertaubatan. Yakinlah bahwa Yang Kuasa akan membukakan pintu tersebut. Pintu bagi orang-orang yang berpikir menuju akhirat. Bukan pintu kenikmatan duniawi yang selalu dimasuki.
Semoga Yang Kuasa mendengar permohonan hamba-Nya. Hamba Yang mau kembali kepada-Nya. Hamba yang berharap kecintaan-Nya. Yakinlah dalam diri bahwa orang yang bertaubat akan mendapat kecintaan Allah. Allah berfirman, artinya, “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.”(Qs. al-Baqarah: 222). Aamiin Ya Rabbal Alamin “Kabulkanlah do’a kami wahai Tuhan Semesta Alam”.

Terkhusus untuk sahabat yang “jelita”, semoga renungan ini dapat memberikan pencerahan bagi kita semua. Inysa Allah kita bersama Yang Maha Segala-galanya.


Oleh: Sri Nurhayati

Post a Comment